DEMA UINSSC — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon melalui Kementerian Agama menggelar diskusi daring bertajuk “Sintesa Pembebasan: Muhammad dan Karl Marx (Membedah Akar Kezaliman Sistematik)” pada Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 16.00 WIB. Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting tersebut merupakan tindak lanjut dari kajian sebelumnya, “Kitab Pembebasan: Tafsir Progresif (Membaca Al-Qur’an dengan Kacamata Kaum Tertindas)”, dengan fokus memperdalam gagasan pembebasan melalui perspektif teologis dan struktural.

Diskusi dimoderatori oleh M. Rifqi Rizqon yang membuka forum dengan menekankan pentingnya kesadaran kritis mahasiswa dalam membaca realitas sosial secara komprehensif, baik melalui dimensi spiritual maupun material.

Bung Sena Indra hadir sebagai pemantik diskusi dengan membedah isi buku Muhammad dan Karl Marx. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa akar kezaliman sistematik tidak hanya dapat dilihat dari tindakan individu, tetapi juga dari konstruksi sosial, politik, dan ekonomi yang menghasilkan ketimpangan. Menurutnya, Nabi Muhammad membawa misi pembebasan yang berpihak kepada kaum tertindas, sementara Karl Marx menawarkan perangkat analisis untuk membaca struktur eksploitasi dalam sistem kapitalisme.

Buku Muhammad dan Karl Marx berupaya mempertemukan dua arus pemikiran yang kerap ditempatkan dalam posisi berbeda, yakni tradisi profetik Islam yang dibawa Nabi Muhammad dan kritik materialisme historis Karl Marx. Dalam pembacaan yang disampaikan pemantik, keduanya tidak dimaksudkan untuk disamakan secara teologis maupun ideologis, melainkan dibaca untuk menemukan titik temu pada aspek etis dan praksis dalam menghadapi persoalan penindasan.

Dalam perspektif kenabian, risalah Nabi Muhammad dipaparkan sebagai gerakan pembebasan yang menantang struktur sosial-ekonomi masyarakat Quraisy, membela mustadh‘afin atau kelompok tertindas, serta mengkritik berbagai praktik yang dinilai eksploitatif, seperti riba, perbudakan, dan monopoli kekuasaan. Sementara itu, Karl Marx membaca persoalan penindasan melalui analisis kelas, khususnya mengenai hubungan antara kaum proletar dan borjuasi dalam sistem produksi dan kepemilikan modal.

Pemantik kemudian menjelaskan benang merah yang dibaca dari kedua perspektif tersebut, yakni kritik terhadap struktur yang menghasilkan dan mempertahankan ketimpangan. Jika Marx membahas alienasi dan ketimpangan kelas dalam relasi ekonomi, Nabi Muhammad membawa misi tauhid yang dalam pemaparan tersebut dipahami memiliki dimensi pembebasan manusia dari berbagai bentuk dominasi, termasuk dominasi ekonomi, politik, dan budaya.


Dari pembacaan tersebut, sintesa pembebasan diposisikan sebagai pertemuan antara spiritualitas yang transformatif dan analisis struktural yang kritis. Bung Sena Indra menekankan bahwa kezaliman tidak semata-mata lahir dari individu, tetapi juga dapat terbentuk melalui sistem yang mempertahankan kepentingan dan privilese kelompok tertentu. Karena itu, upaya pembebasan dalam perspektif yang dibahas tidak cukup berhenti pada perubahan moral personal, tetapi juga perlu menyentuh struktur sosial yang menghasilkan ketidakadilan.

Diskusi berlangsung dinamis dengan keterlibatan peserta melalui pertanyaan, tanggapan, dan kritik terhadap materi yang disampaikan. Interaksi antara pemantik dan peserta memperluas pembahasan mengenai relevansi gagasan pembebasan dengan berbagai persoalan sosial kontemporer.

Pada penghujung diskusi, Bung Sena Indra mengaitkan pembahasan buku Muhammad dan Karl Marx dengan kondisi sosial Indonesia saat ini. Ia menilai bahwa berbagai persoalan sosial dan ekonomi menunjukkan masih relevannya pembacaan kritis terhadap struktur yang memengaruhi kehidupan masyarakat. Menurutnya, gagasan pembebasan menuntut keberanian intelektual untuk memahami sistem secara kritis sekaligus keberanian moral untuk berpihak kepada kelompok yang mengalami ketidakadilan.

Kegiatan kemudian ditutup dengan refleksi bersama. Diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan DEMA UINSSC melalui Kementerian Agama dalam merawat tradisi literasi dan diskusi kritis mahasiswa, sekaligus membuka ruang pengembangan gagasan dalam membaca persoalan sosial melalui perspektif teologis dan struktural.